Beranda Tambang Today Umum Untuk Jangka Panjang Sektor Tambang Masih Prospektif

Untuk Jangka Panjang Sektor Tambang Masih Prospektif

Jakarta-TAMBANG. Dengan kondisi harga yang turun disertai permintaan atas komoditi tambang yang anjlok di tahun 2015 berbagai cara dilakukan perusahaan tambang untuk bisa bertahan. PricewaterhouseCoopers (PwC) dalam Laporan tahunannya menyebutkan beberapa sebagai respon perusahaan atas kondisi tersebut. Laporan ini berdasarkan hasil analisis kinerja keuangan dan tren global dari 40 perusahaan tambang terbesar dalam kapitalisasi pasar.

Sejak tahun 2015 Perusahan mulai melakukan pengetatan modal dan tingkat penurunan nilai. Data menyebutkan dengan tambahan penurunan nilai sebesar US$53 miliar di tahun 2015, perusahaan pertambangan secara kolektif telah menghapus nilai setara dengan 32% belanja modal mereka sejak tahun 2010. Ini bisa diartikan sebagai peringatan akan nilai yang telah hilang. Nilai yang telah hilang tersebut setara dengan 77% nilai belanja modal tahun ini.

“Tingkat penurunan nilai sejak tahun 2010 menunjukkan kurangnya disiplin modal pada periode mining boom. Fokus perusahaan pertambangan pada saat itu hanya pada produksi dengan mengorbankan penilaian investasi yang ketat,” terang Jock O’Callaghan, Global Mining leader di PwC.

Tidak hanya itu menurut Jock imbal hasil modal yang dikeluarkan/return of capital employed (ROCE) berkurang separuh dari 8% di tahun 2014 menjadi 4% di tahun 2015. “Ini menunjukkan adanya tekanan untuk mendapatkan imbal hasil yang baik dari investasi yang dilakukan saat ini.”katanya lagi.

Hal lain yang juga dapat dilihat dalam kondisi sekarang ini peran Cina dalam pasar komoditi global yang berkurang. Negeri Panda ini sudah tidak bisa lagi diandalkan di sektor pertambangan.

Sejauh ini Cina masih menguasai 40% permintaan komoditas secara keseluruhan. Dengan angka ini masih memegang peranan penting dalam kesuksesan industri pertambangan. Akan tetapi ke depan negara ini tidak dapat lagi diandalkan untuk meningkatkan imbal hasil secara signifikan. Hal ini terjadi seiring perubahan kondisi ekonomi negeri ini dari ekonomi berbasis manufaktur ke ekonomi berbasis jasa. Hal tersebut yang membuat permintaan komoditas yang sebelumnya marak tidak akan berlanjut dengan intensitas yang sama. Namun menjadi menarik dalam laporan ini jumlah perusahaan pertambangan Cina yang masuk dalam daftar 40 perusahaan pertambangan terbesar terus meningkat dari sembilan menjadi duabelas.

PwC juga mengingatkan perusahaan tambang terkait tata kelola hutang. Hal ini bahkan menjadi agenda bisnis terpenting bagi banyak perusahaan pertambangan yang tergabung dalam 40 perusahaan pertambangan terbesar.

PwC menilai selama ini sebagian perusahaan melakukan tata kelola utang atas dua pertimbangan. Pertama untuk mempertahankan akses untuk mendapatkan modal pada nilai yang wajar. Ada juga perusahaan yang melakukannya dengan tujuan agar dapat bertahan hidup. Meski 40 perusahaan pertambangan terbesar telah berhasil untuk sedikit mengurangi utang pada tahun 2015, metrik likuiditas telah menunjukkan tanda bahaya.

Rasio utang memasuki tingkat tertinggi dan kas yang digunakan untuk membayar utang sama besarnya dengan kas yang diterima dari pinjaman. Tidaklah mengejutkan bahwa kemudian lembaga pemeringkat kredit merespon hal ini dengan penurunan peringkat kredit perusahaan pertambangan.

Untuk hal ini ada dua cara perusahaan meresponnya. “Yang pertama dengan meneruskan langkah penurunan biaya yang telah menghasilkan penghematan yang substansial dan yang kedua adalah dengan melepaskan aset non inti mereka. Kami memperkirakan tahun 2016 akan menjadi tahun yang sibuk dalam hal kesepakatan bisnis terkait pelepasan aset.”kata Jock

Meski mengalami tekanan berat karena permintaan yang turun dan harga yang anjlok sektor tambang terkenal tangguh. Jock O’Callaghan menilai masih ada prospek positif dalam jangka panjang. “Selama lima bulan pertama tahun ini, terdapat angin segar pemulihan kapitalisasi pasar dan harga komoditas– namun dengan masih tingginya volatilitas yang terjadi, harapan atas pemulihan secara berkelanjutan berkurang,”ungkap Jock.

Jock pun melanjutkan “Banyak di antara 40 perusahaan pertambangan terbesar menyadari hal apa yang diperlukan agar dapat melalui masa sulit dalam industri pertambangan ini dan mengerahkan upaya untuk memperoleh manfaat dalam jangka panjang.”pungkasnya