BUMA International Group Produksi Batu Bara 17 Juta Ton pada Kuartal II 2026
Jakarta, TAMBANG – PT BUMA Internasional Grup Tbk (IDX: DOID) mencatat peningkatan produksi batu bara pada kuartal II 2026 seiring membaiknya kinerja operasional di Indonesia dan Australia.
Perusahaan membukukan produksi batu bara sebesar 17 juta ton, naik 20 persen dibandingkan kuartal sebelumnya, sementara volume pengupasan lapisan tanah penutup (overburden removal) meningkat 10 persen menjadi 97 juta bank cubic meter (BCM).
"Kenaikan produksi tersebut ditopang oleh peningkatan keandalan armada, utilisasi alat, dan produktivitas operasional yang terus membaik sepanjang kuartal II 2026," ujar Direktur BUMA International Group, Iwan Fuad Salim dalam keterangan resmi, Sabtu (1/7).
BUMA mencatat ketersediaan fisik (physical availability) armada meningkat secara kuartalan maupun dibandingkan periode yang sama tahun lalu, dengan lebih dari separuh armada kini memiliki tingkat availability di atas 90 persen.
Efisiensi operasional juga tercermin dari penurunan waktu henti (downtime) sebesar 11 persen dibandingkan kuartal sebelumnya dan 22 persen dibandingkan kuartal II 2025. Pada saat yang sama, kepatuhan terhadap jadwal pemeliharaan (scheduled maintenance compliance) hampir dua kali lipat menjadi 46 persen, dari 25 persen pada periode yang sama tahun lalu.
Perbaikan kualitas pemeliharaan turut meningkatkan keandalan alat berat. Mean time between stops (MTBS) naik 22 persen secara kuartalan dan 20 persen dibandingkan kuartal II 2025. Sementara itu, waktu perbaikan alat atau mean time to repair (MTTR) turun 18 persen dibandingkan kuartal sebelumnya dan 6 persen secara tahunan menjadi 7,5 jam.
Peningkatan availability dan utilisasi mendorong jam kerja alat per unit naik 17 persen secara kuartalan. Waktu nonproduktif juga berhasil ditekan, dengan jam nonproduktif per unit turun 8 persen dibandingkan kuartal sebelumnya dan 6 persen dibandingkan kuartal II 2025.
Kondisi musim kemarau yang mengurangi gangguan akibat hujan dan jalan licin, serta penyelesaian sejumlah kendala di area pembuangan, jalan angkut, dan kondisi geologi turut mendukung peningkatan produktivitas.
Produktivitas alat meningkat, ditandai dengan kenaikan bank cubic meter (BCM) per jam sebesar 2 persen dibandingkan kuartal II 2025. Di lokasi tambang terbesar Grup di Indonesia, waktu siklus (cycle time) juga tercatat 4 persen lebih singkat dibandingkan tahun lalu berkat perbaikan kondisi jalan tambang, pengelolaan lalu lintas, dan koordinasi dispatch yang lebih efektif.
Secara semester pertama 2026, BUMA International Group mencatat total overburden removal sebesar 186 juta BCM, turun 11 persen dibandingkan semester pertama 2025. Produksi batu bara juga mencapai 32 juta ton, turun 16 persen secara tahunan. Penurunan tersebut dipengaruhi berakhirnya kontrak di site Binungan milik Berau Coal dan site IBP milik Resource Alam Indonesia di Indonesia, serta site Burton milik Bowen Coking Coal di Australia, disertai penurunan aktivitas di sejumlah lokasi lainnya.
Meski demikian, di luar lokasi yang kontraknya telah berakhir atau mengalami ramp-down, operasi inti BUMA justru menunjukkan pertumbuhan. Volume overburden removal meningkat sekitar 9 persen dibandingkan tahun lalu, sedangkan produksi batu bara naik sekitar 4 persen, didukung peningkatan keandalan armada dan kondisi cuaca yang lebih kering, dengan penurunan jam hujan di Indonesia sebesar 10 persen dan jumlah hari hujan di Australia turun 4 persen.
Iwan mengatakan berbagai langkah perbaikan operasional yang dijalankan selama setahun terakhir mulai memberikan hasil nyata.
"Peningkatan EBITDA, perbaikan margin, dan penguatan arus kas bebas menunjukkan bahwa berbagai langkah yang telah kami jalankan selama setahun terakhir di seluruh area operasional, optimalisasi tenaga kerja, dan pemeliharaan, telah memberikan hasil, bahkan di tengah penurunan pendapatan dan lonjakan harga bahan bakar yang signifikan. Kemajuan tersebut semakin menguat sepanjang kuartal kedua, ditandai dengan keandalan armada yang lebih baik, produktivitas yang lebih tinggi, serta peningkatan produksi," ujar Iwan.
Menurutnya, pada semester kedua 2026 perusahaan akan melanjutkan fokus pada peningkatan kinerja operasional, menjaga disiplin biaya dan belanja modal, serta mengelola eksposur terhadap harga bahan bakar guna memperkuat arus kas dan keberlanjutan bisnis.