Beranda Batubara Dirjen Minerba Dorong Konsep Net Zero Emissions Versi Industri Batubara

Dirjen Minerba Dorong Konsep Net Zero Emissions Versi Industri Batubara

Jakarta,TAMBANG,- Transisi energi menjadi salah satu tema yang lagi banyak dibahas dan merupakan salah satu isu prioritas dalam Presidensi G20 tahun 2022. Tidak terkecuali PT Bukit Asam,Tbk (PTBA) dan Mining Industry Indonesia (MIND ID) yang menyelenggarakan The 3rd Energy Transition Working Group Meeting Parallel Event G20 Presidency of Indonesia. Event yang menggandeng Kementerian ESDM ini mengangkat tema “The Role of Coal Industry Towards Energy Transition and Circular Economy“.

Saat membuka sesi Talkshow, Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara,Kementerian ESDM Ridwan Djamaluddin menegaskan transisi energi tidak harus meniadakan batu bara. Dengan inovasi teknologi, emisi dari batu bara bisa ditekan sehingga target Net Zero Emission pada 2060 tetap bisa dicapai. “Mari kita berpikir dengan cara yang lain. Kata kuncinya transisi energi berkelanjutan. Net Zero Emission pada 2060 itu yang menjadi skenario besar yang harus kita rumuskan dengan langkah tidak biasa-biasa saja. Kuncinya adalah inovasi,” ungkap Ridwan yang kini juga menjabat Plt Gubernur Bangka.

Terkait inovasi, Ridwan menekankan pentingnya aspek keterjangkauan dan penguasaan teknologi. Ia juga meminta hasil dari Talkshow ini benar-benar dijalankan agar industri batu bara dapat mendukung transisi energi yang berkelanjutan.

“Saya mengharapkan diskusi hari ini menghasilkan sesuatu yang konkrit tidak hanya wacana kemudian harus kita tindak lanjuti. Saya menyarankan buatlah NZE versi industri batu bara, jadi tidak semata-mata kurangi penggunaan batu bara pakai yang lain, adakah cara lain menuju NZE dengan pendekatan yang lebih inovatif,” jelas Ridwan.

Di kesempatan ini, Direktur Utama PTBA Arsal Ismail mengatakan selaras dengan visi PTBA menjadi perusahaan energi kelas dunia yang peduli lingkungan, perusahaan tengah memantapkan eksistensi dan bertransformasi menjadi perusahaan energi. Transformasi ini tidak semata-mata dilakukan untuk menciptakan bisnis yang keberlanjutan, namun juga mendukung target pemerintah Indonesia untuk mencapai Net Zero Emission pada tahun 2060, mendorong proses transisi energi berkelanjutan, dan meningkatkan kontribusi perusahaan dalam mendukung ketahanan energi nasional.

“Berbagai strategi transformasi bisnis telah kami terapkan seperti peningkatan portofolio pembangkit listrik berbasis energi baru terbarukan dan pengembangan hilirisasi batu bara menjadi dimethyl ether (DME),” ujar Arsal.

Dari sisi operasional pertambangan, Arsal menambahkan, terdapat dua program utama yang dijalankan yakni Eco Mechanized Mining dan E-Mining Reporting System. Pada program Eco Mechanized Mining, perusahaan mengganti peralatan pertambangan yang menggunakan bahan bakar berbasis fosil menjadi elektrik. Sementara pada program E-Mining Reporting System, Bukit Asam memanfaatkan platform pelaporan produksi secara real time dan online sehingga mampu meminimalisasi monitoring konvensional dengan kendaraan dan mengurangi penggunaan bahan bakar.

Tidak hanya itu, Bukit Asam juga gencar menerapkan program manajemen karbon, sebuah program integrasi untuk mengurangi emisi karbon dalam operasional pertambangan perusahaan. Beberapa usaha manajemen karbon yang dilakukan yakni reklamasi, dekarbonisasi operasional tambang, dan studi CCUS.

Terkait dengan kajian CCUS ini, Bukit Asam juga sedang menggelar kompetisi teknologi dekarbonisasi yang menitikberatkan inovasi di bidang carbon reduction dan CCUS dengan tajuk Bukit Asam Innovation Award 2022 Greenovator Indonesia. “Kompetisi tersebut kita harapkan dapat mendukung lahirnya inovasi-inovasi terkait teknologi dekarbonisasi di bidang pertambangan, khususnya batu bara, untuk menciptakan energi yang terjangkau, andal, berkelanjutan,” tegas Arsal.

Sebagai informasi, acara ini terbagi menjadi 2 sesi, yaitu Mini Innovation Workshop dan sesi kedua Executive Talkshow.

Sesi Mini Innovation Workshop memfasilitasi keterbukaan inovasi untuk penurunan emisi dan transisi energi secara komprehensif dari berbagai pemangku kepentingan yang berkaitan. Diharapkan muncul dukungan, kolaborasi, partisipasi aktif, dan ide-ide dari para pemangku kepentingan untuk memperkuat semangat inovasi dan menyeleraskan tujuan bersama mencapai penurunan emisi global.

Hadir dalam sesi Workshop ini, antara lain Kepala Pusat Riset Teknologi Pertambangan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Anggoro Tri Mursito, para pimpinan asosiasi pertambangan, para pimpinan lembaga penelitian dan perusahaan rintisan teknologi, dan para pemuda delegasi Y20.

Mini Workshop ini mencari solusi untuk mendukung penurunan emisi, terutama pentingnya inovasi untuk menciptakan carbon capture, utilization, and storage (CCUS) yang biayanya terjangkau. Selain itu, para peserta workshop sepakat bahwa pemanfaatan lahan pascatambang harus mempertimbangkan aspek sosial dan ekonomi. Diharapkan pemanfaatan lahan pascatambang tak hanya ramah lingkungan, tapi juga sesuai dengan kebutuhan masyarakat setempat.

Sedangkan sesi Executive Talkshow menjadi wadah untuk menggali ide dan praktik yang telah dilaksanakan sebagai langkah pengembangan bersama dalam mendukung transisi energi yang berkelanjutan dengan memperhatikan ekonomi sirkular.

Artikulli paraprakPemanfaatan Teknologi CCS/CCUS Masih Butuh Dukungan Regulasi
Artikulli tjetërNaik 127 Persen, Pendapatan Adaro Semester I Mencapai USD 3,541 Miliar