Harga Batu Bara DMO Diusulkan Naik USD10–15 per Ton

Pelaku usaha mengusulkan penyesuaian harga batu bara untuk kewajiban pemenuhan kebutuhan dalam negeri (Domestic Market Obligation/DMO) sebesar USD 10-15 per ton.

Harga Batu Bara DMO Diusulkan Naik USD10–15 per Ton
Ilustrasi.

Jakarta, TAMBANG – Pelaku usaha mengusulkan penyesuaian harga batu bara untuk kewajiban pemenuhan kebutuhan dalam negeri (Domestic Market Obligation/DMO) sebesar USD 10-15 per ton.

Ketua Umum Asosiasi Pemasok Energi, Mineral dan Batubara Indonesia (ASPEBINDO), Anggawira, menilai kenaikan tersebut diperlukan mengingat harga DMO belum mengalami penyesuaian selama hampir delapan tahun.

“Sebenarnya kan kalau DMO itu low rank sama medium rank ya, ya mungkin paling nggak ya menurut saya harus ada kenaikan 10-15 dolar ya, dari yang sekarang ada sih, hitungan-hitungan kita, karena kan ini udah hampir 8 tahun ya,” ujar Anggawira di Jakarta, dikutip Rabu (8/7).

Harga batu bara DMO untuk sektor kelistrikan nasional saat ini dipatok sebesar USD70 per ton dan batu bara DMO untuk sektor industri smelter, semen, pupuk sebesar USD90 per ton.

Menurutnya, penyesuaian harga batu bara DMO diperlukan karena biaya produksi di industri pertambangan terus mengalami kenaikan. Kondisi tersebut dirasakan baik oleh perusahaan tambang berskala besar maupun kecil.

Ia menilai, apabila harga DMO tidak disesuaikan, kemampuan pelaku usaha untuk mengembangkan kegiatan usaha, termasuk melakukan eksplorasi dan ekspansi tambang, akan semakin terbatas.

"Kalau tidak ada penyesuaian, industri tambang akan sulit tumbuh. Padahal eksplorasi dan ekspansi penting untuk menambah serta memverifikasi cadangan batu bara di masa depan," ujarnya.

Meski begitu, penyesuaian harga DMO menurutnya bukan perkara mudah. Pasalnya, kenaikan harga batu bara untuk pembangkit listrik berpotensi mendorong kenaikan biaya pokok penyediaan listrik, sementara pemerintah telah menyatakan tidak akan menaikkan tarif listrik kepada masyarakat.

"Kalau harga DMO dinaikkan, tentu harga jual listrik juga akan terdampak. Apalagi pemerintah sudah menyampaikan tidak akan melakukan penyesuaian tarif listrik," katanya.

Senada, Ketua Indonesia Mining and Energy Forum (IMEF), Singgih Widagdo, menilai harga batu bara DMO saat ini, khususnya untuk batu bara berkalori rendah (low rank), sudah berada di bawah biaya produksi sejumlah perusahaan tambang.

Menurutnya, dengan harga acuan batu bara yang menjadi dasar DMO, harga batu bara low rank yang diterima produsen hanya berkisar USD34-39 per ton. Angka tersebut dinilai cukup berat bagi pelaku usaha untuk menutup biaya produksi.

"Saya melihatnya, kalau kita berbasis low rank, itu rata-rata harga, yang USD70 itu kan basis 6.322 kalori, sehingga harga itu (low rank) hanya 34-39 dolar, memang di bawah cost ini berat. Dulu, waktu rapat yang harga 70 dollar, usulannya kan antara 85-an, sehingga menurut saya antara 80, 85-90 menurut saya pilihan terbaik untuk kondisi saat ini," ujar Singgih.

Meski demikian, ia menilai besaran penyesuaian harga DMO tetap menjadi kewenangan pemerintah, khususnya melalui koordinasi antara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dan Kementerian Keuangan karena berkaitan dengan biaya pokok penyediaan (BPP) listrik dan subsidi.

"Tapi pilihan yang tepat berapa, tinggal bagaimana ESDM dan dengan Kementerian Keuangan karena ini menyangkut BPP dan subsidi juga. Kalau PLN sih mau beli berapa pun, tapi kan harga itu bukan ditentukan oleh PLN, oleh pemerintah. Sehingga kita harus berani revisi itu karena kembali ke masalah hukum, tidak mungkin investor rugi," katanya.

Artikel Terkait

Mitigasi Risiko Blackout, Diversifikasi Energi Jadi Strategi Ketahanan Listrik

Mitigasi Risiko Blackout, Diversifikasi Energi Jadi Strategi Ketahanan Listrik

Jakarta, TAMBANG — Risiko pemadaman listrik berskala besar atau blackout menjadi tantangan yang perlu diantisipasi dalam menjaga ketahanan sistem kelistrikan nasional. Blackout dapat terjadi akibat berbagai faktor, mulai dari ketidakseimbangan pasokan dan kebutuhan listrik, gangguan infrastruktur kelistrikan, hingga meningkatnya kompleksitas sistem energi seiring pertumbuhan kebutuhan listrik nasional. Feiral Rizky Batubara, Pengamat

By Rian Wahyuddin