Komitmen Pada Hilirisasi; PT. WHW Tuntaskan Pembangun Pabrik Pengolahan dan Pemurnian Bauksit Tahap I di Ketapang

Komitmen Pada Hilirisasi; PT. WHW Tuntaskan Pembangun Pabrik Pengolahan dan Pemurnian Bauksit Tahap I di Ketapang
  PT. Well Harvest Winning Alumina Refinery (PT.WHW AR) telah menyelesaikan pembangunan pabrik pengolahan dan pemurnian bauksit menjadi alumina tahap I dengan kapasitas produksi  satu juta ton. Pabrik PT. WHW AR yang berlokasi di Dusun Sungai Tengar, Desa Mekar Utama, Kecamatan Kendawangan, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat ini memiliki total nilai investasi  mencapai kurang lebih US$ 1,150,000,000 (satu milyar seratus lima puluh juta dolar Amerika Serikat). PT. WHW AR sendiri merupakan perusahaan joint venture antara PT Cita Mineral Investindo Tbk (Harita Group) sebesar 30 persen, China Hongqiao Group Ltd. 56 persen, Winning Investment (Hongkong) Company Ltd. 9 persen, Shandong Weiqiao Aluminium and Electricity Co. Ltd 5 persen. CEO Harita Group Lim Gunawan Hariyanto mengatakan, pada tahap ini perusahaan telah mampu memproduksi alumina dan diperkirakan akan melakukan ekspor perdana pada bulam Juli mendatang. Hasil produksi pabrik ini diharapkan  dapat memenuhi kebutuhan alumina di dalam negeri sebesar 500 ribu ton, seperti ke PT Indonesia Asahan Aluminium Persero (INALUM). “Kebutuhan dalam negeri dipenuhi terlebih dahulu, baru sisanya kami ekspor ke perusahaan partner atau ke mana saja,” ujar Gunawan usai acara soft opening pabrik di Ketapang, Kalbar, Sabtu (21/5). Untuk teknologi yang digunakan pabrik ini  merupakan teknologi bayer yang dimodifikasi sehingga merupakan pionir (pertama kali) di Indonesia, dimana dapat mengolah dan memberikan nilai tambah Metalurgical Bauxite (MGB) menjadi Smelter Grade Alumina (SGA). Sementara untuk bahan baku pabrik yang akan memproduksi Smelter Grade Alumina (SGA) ini akan dipenuhi langsung dari cadangan bauksit milik Harita Group dan perusahaan IUP bauksit lainnya

Artikel Terkait

Hadir di Mining Indonesia 2026, EMLI Perkenalkan Solusi Pelumasan Sintetis Canggih

Hadir di Mining Indonesia 2026, EMLI Perkenalkan Solusi Pelumasan Sintetis Canggih

Jakarta,TAMBANG,- Industri pertambangan Indonesia memasuki fase operasional yang semakin menuntut efisiensi dalam segala aspek. Mulai dari tekanan produksi, kenaikan biaya operasional, kebutuhan untuk menjaga keandalan alat berat, serta implementasi B50 mendorong pelaku tambang harus memperkuat disiplin perawatan dan mengurangi risiko downtime. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan sektor pertambangan

By Egenius Soda
Pakar Nilai RUU Daerah Kepulauan Harus Beri Kepastian Investasi Pertambangan

Pakar Nilai RUU Daerah Kepulauan Harus Beri Kepastian Investasi Pertambangan

Jakarta, TAMBANG - Direktur Eksekutif Indonesia Mining & Energy Watch, Ferdy Hasiman menyoroti pembahasan Rancangan Undang-Undang (RUU) Daerah Kepulauan yang dinilai perlu memberikan kepastian hukum bagi investasi jangka panjang, termasuk sektor pertambangan. Kepastian regulasi dianggap penting agar pengembangan sumber daya alam di wilayah kepulauan dapat berjalan seiring dengan kepentingan pembangunan

By Rian Wahyuddin