Menko Marves: Hilirisasi Nikel Kerek Indonesia Jadi Produsen Baja Terbesar ke 8 Dunia

Menko Marves: Hilirisasi Nikel Kerek Indonesia Jadi Produsen Baja Terbesar ke 8 Dunia

Badung, TAMBANG – Menteri Koordinator Bidang Maritim dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan, menyebut hilirisasi nikel turut mengerek industri baja domestik menjadi kontributor terbesar ke delapan di dunia. Capaian tersebut juga membantu stabilitas ekonomi Indonesia.

“Hilirisasi nikel ini telah berhasil membawa indonesia menjadi kontribusi baja terbesar kedelapan di dunia. Dan saya kira ke depan akan semakin meningkat dan sangat membantu sekali stabilitas ekonomi kita, ” jelas Luhut dalam acara Nickel Summit yang diselenggarakan Majalah TAMBANG di Nusa dua Bali, Kamis ( 21/7).

Luhut optimis jika tahun ini pendapatan dari komoditas baja akan lebih baik dengan capaian di sekitar USD 30 miliar.

Hal ini lantaran pada tahun 2015 kontribusi industri baja mencapai USD 1 miliar. Sementara pada tahun 2021 mampu mencatatkan sebesar USD 21 miliar.

“Pada tahun 2015 kita baru satu billion dollar sedangkan tahun lalu sudah 21 billion dollar. Kita memperkirakaan bahwa tahun ini akan lebih dari 30 billion dollar,” ungkapnya.

Lebih lanjut Luhut menyampaikan bahwa hilirisasi juga membantu ketahanan ekspor iron steel Indonesia. Bahkan pada tahun 2021 kontribusinya mencapai 70 persen.

“Hilirisasi juga membantu jaga ketahanan ekspor kita juga. Kalau lihat Tahun lalu misalnya ekspor kita tertinggi dalam sejarah yaitu 232 billion dollar. Ini angka yang sangat besar. Kontrbusi Industri dari iron steel ini 70 persen ke kita, imbuhnya.

Turut hadir sebagai pembicara di sesi pertama, Wakil Ketua Komisi VII DPR RI, Eddy Soeparno, Deputi Bidang Hilirisasi Investasi Strategis BKPM, Heldy Satrya Putera.

Selanjutnya Staf Khusus Bidang Percepatan Tata Kelola Minerba Kementerian ESDM, Irwandy Arif, Ketua Umum Asosiasi Penambang Nikel Indonesia, Nanan Soekarna dan National Battery Research Institute, Adit Tri Wiguno.

Artikel Terkait

Terkait Rencana Kenaikan Royalti, Pemerintah Perlu Pertimbangkan Kepastian Hukum Di Sektor Minerba

Terkait Rencana Kenaikan Royalti, Pemerintah Perlu Pertimbangkan Kepastian Hukum Di Sektor Minerba

Jakarta,TAMBANG,- Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) kembali mengusulkan penyesuaian tarif royalti. Rencana ini menyasar sejumlah komoditas mineral strategis seperti emas, tembaga, timah, hingga nikel beserta produk hilirisasinya. “Kebijakan ini pada dasarnya dapat dipahami sebagai upaya negara meningkatkan penerimaan di tengah dinamika harga komoditas global.

By Egenius Soda
IMA: Demi Menjaga Iklim Investasi Perlu Ada Kestabilan Kewajiban Keuangan

IMA: Demi Menjaga Iklim Investasi Perlu Ada Kestabilan Kewajiban Keuangan

Jakarta,TAMBANG,- Dalam beberapa waktu terakhir dunia pertambangan ramai membincangkan rencana penerapan skema Product Sharing Cost (PSC). Terkait hal ini Indonesian Mining Association (API-IMA) menyampaikan pendapatnya. IMA mengingatkan industri pertambangan mineral dan batubara (minerba) memiliki karakteristik usaha yang sangat berbeda dibandingkan industri minyak dan gas bumi (migas). Industri minerba

By Egenius Soda