Pakar Tambang; Sektor Pertambangan Sepanjang 2026 Akan Alami Tekanan, Pemulihan Baru Terlihat Akhir Tahun

Pakar Tambang; Sektor Pertambangan Sepanjang 2026 Akan Alami Tekanan, Pemulihan Baru Terlihat Akhir Tahun

Jakarta,TAMBANG,- Sektor pertambangan Indonesia diperkirakan masih akan mengalami dinamika. Secara keseluruhan tahun 2026 sektor ini akan mengalami tekanan baik dari internal yakni dalam negeri maupun situasi gobal. Tenaga Ahli Profesional Kekayaan Alam, Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhanas) menjelaskan sektor tambang akan mengalami koreksi di paruh pertama tahun ini.

Kemudian memasuki kuartal III, sektor ini mulai bisa menyesuaikan tekanan-tekanan yang dihadapi. Baru di kuartal IV sektor pertambangan mulai bergerak positif namun dengan beberapa catatan.

Edi kemudian menjelaskan pada paruh pertama 2026, sektor pertambangan menghadapi sejumlah tantangan. Hal ini membuat sektor yang menjadi andalan Indonesia ini mengalami koreksi. Kondisi ini bahkan tidak lagi dapat dijelaskan hanya melalui siklus komoditas biasa.

Sebagaimana diketahui pada kuartal I 2026, sektor ini tercatat mengalami kontraksi sebesar −2,14 persen secara tahunan. Sektor tambang menjad satu-satunya lapangan usaha utama yang tidak tumbuh di tengah ekonomi nasional yang tetap ekspansif sebesar 5,61 persen.

“Fakta ini menegaskan bahwa tekanan di sektor tambang bersifat struktural, bukan sekadar fluktuasi jangka pendek. Kontraksi tersebut dipicu juga oleh kombinasi kebijakan domestik dan dinamika global. Dari sisi kebijakan, pemerintah telah menaikkan royalti melalui skema progresif sejak 2025. Khusus untuk komoditi nikel bahkan berada pada kisaran 14–19 persen. Kemudian implementasi Harga Patokan Mineral (HPM) terbaru pada April 2026 yang meningkatkan harga dasar transaksi bijih, khususnya limonit,”terang Edi Permadi, Tenaga Ahli Profesional Kekayaan Alam Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhanas) RI.

Tidak hanya faktor internal, tantangan juga datang dari kondisi global. Pasar komoditas masih menghadapi ketidakseimbangan antara permintaan dan pasokan, terutama untuk nikel yang mengalami tekanan oversupply.

"Dalam konteks ini, proyeksi sektor pertambangan sepanjang 2026 perlu dibaca secara bertahap sekaligus mempertimbangkan risiko kejadian ekstrem (black swan) yang semakin sering muncul dalam dinamika ekonomi global,"lannjut Edi.

Memasuki kuartal II 2026, Edi melihat sektor pertambangan masih berada dalam fase kontraksi dengan pertumbuhan di kisaran −2 persen hingga −1 persen secara tahunan.

“Pada periode ini, dampak penuh dari kenaikan biaya mulai terlihat secara nyata. Industri HPAL sebagai bagian penting hilirisasi nikel mengalami lonjakan biaya yang sangat signifikan. Harga sulfur meningkat dari sekitar US$275 per ton menjadi US$960 hingga di atas US$1.300 per ton. Sementara harga asam sulfat mencapai US$800–910 per ton. Dampaknya sangat besar terhadap struktur biaya,”lanjut Edi.

Sebagaimana diketahui, Asam sulfat, yang sebelumnya hanya menyumbang sekitar 35–40 persen dari total biaya produksi, kini melonjak menjadi 6570 persen. Selain itu, biaya energi yang mencakup BBM dan listrik menambah sekitar 10-20 persen dari total biaya produksi.

Dalam kondisi ini, biaya produksi Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) mendekati harga nikel di London Metal Exchange (LME). Hal ini membuat margin industri menjadi sangat tipis bahkan minus.

Edi juga menegaskan kontraksi kuartal II juga diperkuat oleh faktor volume. Pemerintah menahan produksi melalui kebijakan kuota, dengan produksi batu bara 2026 diturunkan signifikan dibandingkan tahun sebelumnya. Produksi nikel juga dikendalikan untuk menjaga harga. Langkah ini menunjukkan pergeseran strategi dari ekspansi volume menuju stabilisasi harga dan peningkatan nilai.

Namun Ia mengingatkan, risiko terbesar kuartal II tidak hanya berasal dari faktor yang dapat diprediksi. Dalam pendekatan black swan, gangguan pasokan global akibat eskalasi konflik di Timur Tengah—khususnya di jalur distribusi energi dan sulfur seperti Selat Hormuz—dapat memperburuk kondisi biaya secara drastis.

Dalam skenario ini, kontraksi sektor tambang berpotensi melebar hingga di bawah −3 persen, mencerminkan sensitivitas tinggi sektor terhadap shock global.

“Penundaan bahkan pembatalan bila memungkinkan rencana kenaikan royalti yang diumumkan Menteri ESDM dan Menteri Keuangan adalah langkah yang sangat tepat. Selain itu perlunya mereview segera HPM limonit agar lebih mendekati harga pasar yang ekonomis agar awal ekosistem pengembangan battrey NMC dan kendaraan listrik Indonesia dapat tetap berjalan,”tandasnya.

Lalu bagaimana dengan kuartal III dan Kuartal IV tahun ini. Edi melihat memasuki kuartal III 2026, sektor pertambangan diperkirakan mulai mengalami stabilisasi dengan pertumbuhan di kisaran −0,5 persen hingga +0,5 persen. Pada fase ini, pelaku industri mulai menyesuaikan diri dengan struktur biaya baru melalui efisiensi operasional dan integrasi rantai pasok. Renegosiasi kontrak antara tambang dan smelter menjadi salah satu mekanisme utama untuk menjaga keberlanjutan operasi di tengah tekanan margin, bila ada perbaikan juga disektor HPM limonit.

Menurut Edi stabilisasi ini juga didukung oleh perbaikan keseimbangan pasar dan ketenangan kebijakan pertambangan dalam negeri. Disiplin produksi di dalam negeri, ditambah dengan tekanan pasokan global akibat konflik geopolitik, membantu menjaga harga komoditas tetap relatif stabil. Namun demikian, fase ini tetap rentan. Faktor eksternal seperti hubungan ekonomi antara Amerika Serikat dan China menjadi krusial pasca pertemuan Beijing.

“Sebagai konsumen utama logam industri, setiap perlambatan ekonomi atau ketegangan perdagangan di China akan langsung memengaruhi permintaan nikel dan tembaga dari Indonesia. Jika terjadi black swan berupa eskalasi konflik dagang atau perlambatan ekonomi global, sektor pertambangan dapat kembali stagnan bahkan negatif pada kuartal III. Sebaliknya, jika hubungan global membaik, stabilisasi dapat berlangsung lebih kuat,”ungkap Edi.

Selanjutnya pada kuartal IV 2026, sektor pertambangan diproyeksikan mulai mencatat pertumbuhan positif bila scenario diatas dapat berjalan, meskipun terbatas, di kisaran +0,5 persen hingga +2 persen. Fase ini menandai awal pemulihan setelah melalui tekanan sepanjang tahun.

“Stabilitas harga yang lebih baik, didukung oleh reformasi HPM yang menciptakan batas bawah harga, mulai memberikan kepastian bagi pelaku usaha. Selain itu, jika kondisi geopolitik mulai mereda, harga energi dan sulfur berpotensi stabil, yang secara langsung memperbaiki margin industri. Namun, pemulihan ini tidak bersifat linier,”ujar Edi.

Menurutnya dalam skenario positif, misalnya jika terjadi gangguan pasokan global yang justru menaikkan harga komoditas, pertumbuhan sektor tambang dapat melampaui 3 persen. Sebaliknya, dalam skenario negatif seperti resesi global, pertumbuhan dapat kembali mendekati nol.

“Jika dirangkum, dinamika sektor pertambangan sepanjang 2026 menunjukkan pola yang jelas. Lontraksi pada kuartal II, stabilisasi pada kuartal III, dan pemulihan terbatas pada kuartal IV. Secara keseluruhan, pertumbuhan tahunan sektor ini diperkirakan berada pada kisaran −1,5 persen hingga +1 persen. Ini menjadikan 2026 sebagai tahun transisi. Namun, di tengah dinamika tersebut, isu yang tidak kalah penting adalah bagaimana menciptakan certainty of sustainable investment atau kepastian investasi berkelanjutan.

Sektor pertambangan, khususnya hilirisasi nikel berbasis HPAL, merupakan sektor yang sangat padat modal dengan kebutuhan investasi mencapai US$2,5–4 miliar per proyek. Dalam kondisi seperti ini, keputusan investasi sangat sensitif terhadap perubahan kebijakan dan struktur biaya. Kenaikan royalti dan HPM memang meningkatkan penerimaan negara, tetapi juga meningkatkan persepsi risiko kebijakan.

“Data pasar menunjukkan bahwa wacana kebijakan saja sudah mampu memicu tekanan pada saham sektor tambang, mencerminkan tingginya sensitivitas investor terhadap ketidakpastian kebijakan. Oleh karena itu, strategi ke depan harus menyeimbangkan antara penerimaan negara dan keberlanjutan investasi. Pendekatan yang dapat dilakukan antara lain mencakup fleksibilitas kebijakan fiskal yang mengikuti siklus industri, sinkronisasi antara royalti dan struktur biaya, serta pemberian insentif selektif untuk sektor strategis seperti HPAL,”terang Edi.

Selain itu disaat bersamaan, penguatan aspek ESG, kepastian hukum, penguatan eksplotrasi dan konsistensi regulasi akan menjadi faktor penting dalam menarik investasi jangka panjang.

Pada akhirnya, sektor pertambangan Indonesia tidak hanya menghadapi tantangan pertumbuhan, tetapi juga tantangan ketahanan dan adaptasi. Dalam dunia yang semakin tidak terprediksi, keberhasilan tidak lagi ditentukan oleh kemampuan memperkirakan masa depan, tetapi oleh kesiapan menghadapi berbagai kemungkinan.

Sektor ini menurut Edi mungkin tidak lagi tumbuh secepat sebelumnya. Namun, jika mampu membangun fondasi investasi yang kuat dan berkelanjutan, serta mengelola risiko black swan dengan baik, justru di situlah peluang untuk menciptakan pertumbuhan yang lebih berkualitas di masa depan.

“Pendekatan ketenangan kebijakan Nasional sangat penting agar terjadi pemulihan kontraksi dan secara jangka panjang mengembangkan industrialisasi produk yang lebih memiliki nilai ekonomis tinggi,”tutup Edi .

Artikel Terkait

Hadir di IEE Balikpapan 2026, PT Prasetia Dwidharma Perkenalkan Produk Aditif IMAGINA

Hadir di IEE Balikpapan 2026, PT Prasetia Dwidharma Perkenalkan Produk Aditif IMAGINA

Jakarta,TAMBANG,- Industri pertambangan, energi, konstruksi, hingga migas sedang menghadapi sejumlah tantangan operasional. Di tengah kebutuhan produksi yang tinggi, perusahaan juga dituntut untuk menjaga efisiensi, mengurangi downtime, dan memastikan alat berat tetap bekerja secara optimal. Salah satu faktor yang sering luput diperhatikan adalah kualitas bahan bakar. Dalam penggunaan mesin

By Egenius Soda