Beranda Tambang Today Pengusaha Bertahan Di USD85 Soal Harga Batu Bara

Pengusaha Bertahan Di USD85 Soal Harga Batu Bara

Direktur Eksekutif APBI Hendra Sinadia

Jakarta, TAMBANG – Direktur Asosiasi Pengusaha Batubara Indonesia (APBI), Hendra Sinadia menegaskan, pengusaha masih bertahan untuk Harga Batubara DMO di harga USD85 per ton. Pasalnya, pengusaha harus menyesuaikan dengan nilai investasi yang sedang berjalan, dengan harga di pasaran.

 

“Kami sudah statement, mau tidak mau ya USD85 sih, ya kalau USD85 kami masih bisa investasi,” kata Hendra kepada tambang.co.id di Energy Building Jakarta, Selasa (6/2).

 

Pihaknya keberatan dengan harga yang diajukan oleh pemerintah, yaitu sekitar USD70 per ton. Selain itu, Hendra juga kurang tertarik dengan ide pemerintah soal skema tarif atas-bawah.

 

“Sebaiknya harga tidak diintervensi. Ikuti harga pasar, dalam artian HBA. HBA yang ditetapkan pemerintah itu kan pasti lebih rendah dari harga internasional,” ujarnya.

 

Sejauh ini, pemerintah memang berencana akan menerapkan skema tarif atas-bawah bagi harga batu bara DMO, dipatok USD60-70 per ton. Implementasinya, misalkan harga pasaran berada di angka USD50 per ton, maka pemerintah akan membeli batu bara dengan tarif bawah yaitu USD60 per ton. Tapi misalkan harga pasaran berada di USD100 per ton, maka akan menggunakan tarif atas yaitu USD70 per ton.

 

Skema ini ditolak oleh pengusaha. Pasalnya, tidak ada kepastian harga dalam skema tersebut. Menurut Hendra, pemerintah belum tentu bisa mempertahankan skema tarif atas-bawah apabila harga batu bara jatuh nantinya.

 

“Hal yang paling ditakutkan pengusaha adalah ketidakpastian. Berani jamin enggak nantinya kalau harga jatuh, pemerintah tetap mempertahankan tarif atas-bawah,” paparnya.

 

Hendra mengacu pada pengalaman beberapa tahun silam saat kondisi batu bara sempat terpuruk. Saat itu pemerintah, dalam konteks ini ialah PLN, tidak memberi perhatian lebih kepada pengusaha. Justru pemerintah malah hampir mau menaikkan royalti kala itu.

 

“Pada saat harga rendah, Kita tak minta support. Malahan pemerintah nyaris menaikkan royalti pada 2013-2014. Tega juga itu, sudah harga rendah mau dihajar lagi royalti. Tapi syukur itu tidak terjadi,” ulas Hendra.

 

Tahun ini, bagi pengusaha merupakan tahun kebangkitan. Sebab hampir 4 tahun sejak 2012 hingga 2016, batu bara terpuruk. Apabila pemerintah mematok batu bara di bawah harga pasar saat ini, maka akan menyebabkan ketidakpastian jangka panjang.

 

“Bagaimana kita bisa eksplorasi kalau harga ditekan terus. Nanti terpaksa kita ambil stripping rasio yang rendah, dan batu bara yang bagus di bawah terkubur,” jelas Hendra.