PT Bumi Etam Chemical Tandantangani FEED dan EPCC Framework Hilirisasi Batubara Jadi Metanol
Jakarta,TAMBANG,- Satu tonggak penting berhasil dicatatkan dua perusahaan tambang batubara nasional PT Kaltim Prima Coal (PT KPC) dan PT Arutmin Indonesia (Arutmin) khusus terkait dengan hilirisasi. Lewat perusahaan patungannya, PT Bumi Etam Chemical (BEC) kedua perusahaan ini akan mulai membangun pabrik pengolahan batubara menjadi methanol. Proyek pengolahan batubara menjadi methanol yang akan dibangun di Bengalon, Kutai Timur, Kalimantan Timur ini akan menjadi yang pertama di Indonesia.
Pada hari ini Rabu (29/1) langkah nyata itu semakin terlihat. PT Bumi Etam Chemical (BEC) bersama PT Istana Karang Laut (IKL) dan China National Chemical Engineering Co., Ltd. (CNCEC), secara resmi menandatangani kontrak Front-End Engineering Design (FEED) dan Engineering, Procurement, Construction, and Commissioning (EPCC) Framework Agreement.
Kesepakatan ini menandai dimulainya tahap rekayasa dasar (FEED) sekaligus penyusunan kerangka pelaksanaan EPCC sebagai fondasi menuju fase konstruksi fasilitas produksi metanol dari batubara.
Acara penandatanganan dihadiri oleh jajaran manajemen Arutmin, KPC, BEC, IKL, dan CNCEC beserta para pemangku kepentingan dari berbagai sektor, termasuk unsur Pemerintah. Kolaborasi tersebut mencerminkan komitmen bersama untuk mengembangkan fasilitas industri kimia hulu berskala besar secara terintegrasi dengan menggabungkan keahlian di bidang rekayasa, pengadaan, konstruksi, investasi, dan pengembangan industri hilirisasi.
"Penandatanganan FEED dan EPCC Framework Agreement merupakan milestone penting dalam perjalanan pengembangan proyek ini. Dimulainya tahapan FEED akan menjadi fondasi bagi pelaksanaan proyek secara terukur dan berkelanjutan guna mendukung program hilirisasi nasional, mengurangi ketergantungan impor metanol serta memperkuat kemandirian industri kimia nasional," ungkap Presiden Direktur BEC, Rio Supin.
Dijelaskan pula bahwa pengembangan fasilitas Coal-To-Methanol oleh BEC merupakan bagian dari pelaksanaan kewajiban peningkatan nilai tambah Batubara oleh Arutmin dan KPC serta mendukung implementasi kebijakan hilirisasi nasional melalui konversi batubara menjadi metanol sebagai bahan baku strategis bagi berbagai sektor industri, termasuk petrokimia, manufaktur, energi, dan industri turunannya.
Dalam paparannya Rio menjelaskan perjalanan panjang rencana hilirisasi dari dua perusahaan induknya yakni PT Kaltim Prima Coal dan PT Arutmin Indonesia. Dimulai sejak 2010 dimana kedua perusahaan punya rencana masing-masing. PT Arutmin Indonesia akan membangun di Kalimantan Selatan. Sementara PT Kaltim Prima Coal akan membangun di Kalimantan Timur.
“Sampai pada tahun 2023, KPC dan Arutmin memutuskan untuk berkolaborasi, bersinergi dan membentuk PT Bumi Etham Chemical, sebagai unit usaha yang menjalankan proyek hilirisasi batubara di Indonesia,”terang Rio.
BEC kemudian melakukan berbagai persiapan. Ada beberapa milestone penting yang sudah dicapai perusahaan. Pada Oktober 2025, perusahaan telah melaksanakan beberapa persiapan sampai mengantongi bankable feasibility study untuk kapasitas 2 juta ton. Selanjutnya perusahaan melakukan persiapan lahan dan saat ini lahannya sudah tersedia.
“Saat ini tanah sudah dalam penguasaan PT BEC dengan status Hak Guna Usaha bekerja sama dengan Batubara Chemical Industrial Park (BCIP) Kutai,”ungkap Rio.
Selanjutnya pasca penandatanganan kesepakatan perusahaan akan melakukan beberapa kegiatan terkait konstruksi. Direncanakan akan dilaksanakan pada periode 2026 sampai 2029 sampai pada tahapan commissioning dan initial operation. Di targetkan pada 2030 akan mulai produksi secara penuh dengan total kapasitas 2 juta ton. Keseluruhan produksi metanol ini akan dialokasikan untuk pasar domestik.
Untuk tahap pertama, pabrik pengolahan metanol pertama di Indonesia ini akan memproduksi 2 juta ton methanol per tahun. Batubara yang dibutuhkan untuk menghasilkan kapasitas tersebut sebanyak 7,78 metrik ton per tahun dengan kebutuhan batubar kalor rendah yakni 3,400 kcal/kg GAR. Total investasi yang dibutuhkan sebesar USD 2,3 miliar.
Pabrik yang sedang dibangun ini merupakan tahap pertama dan akan dikembangkan lagi di tahap kedua dengan kapasitas 1,5 juta ton. Sehingga nantinya total kapasitas pabrik pengolahan batubara menjadi ethanol ditargetkan mencapai 3,5 juta ton.
Secara prospek, methanol saat ini merupakan salah satu produk yang sangat penting termasuk untuk pencamputan Biodiesel. Saat ini untuk memenuhi kebutuhan methanol Indonesi masih mengimpor 68% methanol dari total kebutuhan.