Beranda Kolom Teknologi Berkelanjutan dan Perubahan Persepsi Sosial Mengenai Pertambangan

Teknologi Berkelanjutan dan Perubahan Persepsi Sosial Mengenai Pertambangan

Oleh: Michelle Ash, GEOVIA CEO, Dassault Systèmes

Pertambangan mineral dan batu bara (Minerba) di Indonesia dimulai ketika para imigran asal China menambang emas aluvial (alluvial placers) di Kalimantan Barat pada abad ke-4. Saat ini, pertambangan merupakan salah satu industri strategis yang memberi kontribusi yang sangat signifikan terhadap pendapatan pemerintah bukan pajak (PNBP), yakni Rp 27,6 triliun pada 2016, Rp 40,6 triliun pada 2017, Rp 50 triliun pada 2018 dan Rp 45,2 triliun pada 2019 (Kemenperin).

Pertambangan memang salah satu industri tertua di dunia dan sudah menjadi kekuatan sosial dan ekonomi yang besar sepanjang sejarah. Sebagai pembangun masyarakat, sektor pertambangan mendukung perekonomian dan mentransformasi berbagai komunitas.

Transformasi industri pertambangan

Industri pertambangan sendiri sudah mengalami transformasi yang dramatis dalam satu abad terakhir, yang mencakup–

Teknologi yang diadopsi: banyak kegiatan penambangan saat ini dapat mengekstraksi biji mineral dan logam dengan lebih akurat, memberikan dampak negatif yang lebih sedikit terhadap lingkungan sekitar dan tanpa membahayakan jiwa para penambang.

Kesehatan dan keamanan yang lebih baik: angka kematian pertahun terkait kegiatan penambangan saat ini tercatat rendah dibandingkan dengan 50 tahun lalu.

Dampak lingkungan yang lebih baik: mesin baru yang dikembangkan untuk menggiling dan menghancurkan batuan bisa mengekstraksi mineral dari bumi dengan konsumsi energi yang lebih rendah dibandingkan sebelumnya.

Membuat perubahan dalam kemajemukan tenaga kerja: walaupun persentase wanita yang bekerja di perusahaan penambangan hanya 15% (Doku, 2019) kita sudah membuat langkah besar sejak saya pertama terjun di industri ini.

Masyarakat yang bertransformasi: pada puncak kejayaannya di awal abad 20, industri besi, baja dan batu bara di Inggris mempekerjakan lebih dari 10 persen dari populasi pekerja dan memotori revolusi industri. Di Indonesia, pertambangan dan penggalian pada 2017 mempekerjakan 1,94 juta orang, sekitar 1,15% persen dari seluruh tenaga kerja di Indonesia dan merupakan kelompok tenaga kerja dengan gaji rata-rata tertinggi. (BPS).

Harapan masyarakat adalah tantangan terbesar yang dihadapi sektor ini

Namun kita menghadapi sebuah tantangan besar. Kita adalah arsitek masa depan namun masyarakat melihat kita dengan sangat berbeda. Persepsi masyarakat terhadap pertambangan masih seperti tahun 1920an – ketika penambang menggunakan alat-alat kuno untuk menggali dan kecelakaan menjadi hal yang biasa. Tantangan terbesar industri pertambangan saat ini dan masa depan adalah mengubah opini, mengubah ekspektasi dari masyarakat, orang dan warga negara.

Kinerja kita sebagai sebuah industri dan tingkat ekspektasi masyarakat untuk berubah sebenarnya semakin besar. Ini tidak berarti bahwa kita tidak berubah. Sebagai sebuah industri kita mengadopsi teknologi baru, berinovasi dan bekerja dengan cara yang berbeda; namun ekspektasi masyarakat terhadap kita sebagai sebuah industri jauh lebih tinggi dari generasi sebelumnya. Ini karena mereka melihat perubahan dramatis yang terjadi di sektor lain dan berharap bahwa sektor pertambangan juga bisa berubah secara cepat dan radikal. Ini artinya kita tidak hanya harus meningkatkan kecepatan transformasi, namun juga harus secara fundamental memikirkan kembali beberapa dari proses-proses yang kita jalankan.

Pelajaran dari industri-industri lain

Industri pesawat dan otomotif menghadapi hal yang sama pada 25 tahun terakhir di abad ini. Kedua industri ini secara fundamental berubah dari memanfaatkan teknologi-teknologi baru pada saat itu dan mengadopsi cara-cara yang sama sekali berbeda dalam operasional bisnis.

Misalnya di industri pesawat terbang, teknologi membantu mengurangi 91% waktu pengembangan, 71% biaya tenaga kerja, 90% pemangkasan redesign, dan secara dramatis mengurangi kesalahan desain dan produksi, ketidakcocokan, dan kesalahan-kesalahan terkait. (IndiaCADWorks, 2015).

Industri otomotif juga berkembang menjadi jaringan tersegmentasi dalam 50 tahun terakhir. Sebagai contoh, tidak ada lagi perusahaan mobil yang membuat kaca depan atau kaca spion – mereka selalu membelinya dari produsen kaca depan dan kaca spion. Pembagian tenaga kerja di ekosistem otomotif memungkinkan pemasok untuk menjadi lincah dan inovatif. Hal ini juga berarti onderdil mobil bisa dengan cepat diperoleh dan pemasok diberdayakan untuk mendesain dan memproduksi onderdil baru secara cepat dan efisien.

Kelebihan perusahaan pertambangan

Mengutip kata-kata mantan Menteri Pertahanan Amerika Serikat Donald Rumsfeld, ‘Kita juga tahu ada hal-hal yang dinamakan known unknowns; artinya kita tahu ada beberapa hal yang tidak kita ketahui.’ Industri pesawat dan otomotif keduanya berinvestasi di teknologi yang membantu mereka untuk lebih memahami kebutuhan para pelanggan mereka – hal yang tidak diketahui. Industri pesawat dan otomotif bisa mengintegrasikan proses manufaktur mereka sehingga menjadi fleksibel secara terencana, sehingga memungkinkan kedua industri ini mengurangi limbah dan menghemat waktu dari perubahan-perubahan dalam proses perencanaan yang terus terjadi.

Di sisi lain, kita sebagai sebuah sektor tidak berinvestasi cukup banyak di bidang yang kita tidak ketahui, yaitu geologi. Tanpa pengetahuan ini kita dipaksa untuk menjadi fleksibel dengan cara yang tidak direncanakan. Hal ini pada akhirnya akan menjadi pemborosan. Inilah peluang bagi industri ini untuk bekerja sama di ekosistem tersebut – mulai dari perusahaan pertambangan itu sendiri, hingga pemasok, akademisi, pemerintah, bahkan startup dan banyak lagi.

Bagi saya, ada empat masalah besar yang harus dipecahkan sebagai industri.

1.         Pengetahuan tentang kandungan biji (ore body) di seluruh dunia: Kita harus bisa mendapatkan informasi tentang kandungan biji dengan lebih cepat, murah dan lebih menyeluruh. Kita bisa menggunakan pencitraan satelit untuk mendeteksi kandungan biji dan menggunakan geospasial fisik dan teknologi hyperspectral untuk memberikan data tambahan bagi pakar geologi.

2.         Otomasi dan elektrifikasi: Kita harus memahami kinerja, mengoptimalkan kinerja secara real time dan mengoptimalkan perencanaan secara real time juga.

3.         Ekstraksi yang presisi: Kita harus lebih presisi dalam mengekstraksi logam yang diinginkan tanpa menghasilkan limbah secara berlebihan, lalu memprosesnya secar efisien. Ini artinya menggunakan digital twins untuk membuat simulasi dan skenario berbagai kemungkinan sebelum membuatnya secara konkrit dengan sensor untuk analitik. Ini tidak hanya meminimalisir risiko namun juga mengurangi kesalahan dan limbah.

4.         Menciptakan nilai sosial: Kita harus menggunakan teknologi dengan lebih baik untuk menciptakan dan memberikan nilai kepada komunitas. Keunggulan sesungguhnya dari perusahaan pertambangan adalah kecepatan mereka dalam mengadopsi teknologi menjadi bisnis yang memecahkan masalah sambil terus menciptakan nilai bagi masyarakat. Di sinilah perusahaan-perusahaan pertambangan harus melihat solusi yang sudah ada di industri lain dan ekosistem kompetisi dan kolaborasi mereka untuk membangun masa depan yang berkelanjutan.

Artikulli paraprakPeringati Hari Jadi, Indika Bagi Paket Beras Di Kalimantan Timur
Artikulli tjetërAdaro Jajaki Gasifikasi Batu Bara Demi Perpanjangan Kontrak