Batu Bara: Rusia Incar Kawasan Asia Pasifik

Batu Bara: Rusia Incar Kawasan Asia Pasifik
Tambang Batu Bara di Rusia

Vladivostok, Rusia - TAMBANG. PEMBANGUNAN fasilitas pelabuhan senilai $545 juta untuk ekspor batu bara Rusia, dimulai tahun ini. Pelabuhan itu terletak di kawasan Primorye, wilayah Rusia yang berada di pantai yang menghadap Samudera Pasifik.

Fasilitas itu disebut sebagai terminal Utara, dalam Bahasa Rusia dikenal sebagai Sever.

Pelabuhan ini dibangun di Tanjung Petrovsky, di dekat Pelabuhan Vostochny, di Nakhdodka, dan akan difokuskan untuk ekspor batu bara ke negara-negara di Asia Pasifik. Fasilitas baru ini mampu menangani batu bara hingga 20 juta ton, setahun. ‘’Pembangunan pelabuhannya direncanakan pada musim semi 2015,’’ demikian pernyataan Kementerian Perhubungan dan Industri Regional, Rabu kemarin.

Proyek pembangunan pelabuhan akan menyediakan lapangan kerja bagi sedikitnya 1.400 orang. Termasuk di dalam proyek itu adalah pembangunan 50 kilometer rel sepur, 11 jembatan dan jalan layang, serta fasilitas sepanjang 900 meter untuk bersandar kapal.

Rancangan desain saat ini hampir final, tinggal menunggu persetujuan kementerian serta dinas terkait. Rencananya, pada 2025 pelabuhan ini akan beroperasi penuh.

Proyek ini merupakan bagian dari program pemerintah federal untuk pengembangan sistem transportasi pada 2010-2020. Pemerintah pusat membiayai sebanyak US$ 352 juta.

Berita mengenai rencana Rusia menambah pasokan batu bara ke kawasan Asia Pasifik itu disambut dengan pesimistis di Australia. Situs berita pertambangan Mining Australia menulis, rencana Rusia itu dilaksanakan pada saat harga batu bara hancur, dan Australia menghadapi krisis batu bara.

Biro Ekonomi Energi dan Sumber Daya Alam Australia melaporkan, negara itu mengekspor batu bara jenis untuk metalurgi sebanyak 181 juta ton, pada 2013-2014, dan akan menjadi 185 juta ton pada 2014-2015. Sementara batu bara jenis termal yang diekspor mencapai 196 juta ton pada 2014-2015.

Queensland sendiri mengekspor 216 juta ton untuk kedua jenis batu bara itu. Perusahaan tambang Australia banyak yang menambah ekspornya, meski untungnya tipis, demi mendapat laba. ‘’Kita melihat para produsen menggenjot volume, meski untungnya sedikit, demi mendapatkan biaya operasional,’’ kata CEO Dewan Sumber Daya Alam Queensland, Michael Roche.

Batu bara Australia, kata Roche, harus bersaing ketat dengan produk Indonesia, Afrika Selatan, Kolombia, plus Rusia. Negeri yang terakhir ini bahkan akan meningkatkan volume penjualannya ke Asia Pasifik sebanyak empat kali, pada 2030.

Rusia sudah berancang-ancang dengan membangun pelabuhan ekspor.

Artikel Terkait

Enlit Asia dan MKI Electricity Connect 2026 Hadirkan 280+ Perusahaan Global

Enlit Asia dan MKI Electricity Connect 2026 Hadirkan 280+ Perusahaan Global

Jakarta, TAMBANG – Sektor ketenagalistrikan Indonesia tengah memasuki fase transformasi yang penting. Peningkatan permintaan listrik, integrasi energi terbarukan, modernisasi jaringan, digitalisasi, serta meningkatnya kebutuhan listrik dari sektor industri dan pusat data mendorong kebutuhan akan sistem ketenagalistrikan yang semakin andal, fleksibel, dan tangguh. Dalam konteks tersebut, Enlit Asia dan MKI Electricity Connect

By Rian Wahyuddin
Bos Perminas Buka-Bukaan Tantangan Pengembangan Logam Tanah Jarang di Dalam Negeri

Bos Perminas Buka-Bukaan Tantangan Pengembangan Logam Tanah Jarang di Dalam Negeri

Jakarta, TAMBANG – Presiden Direktur PT Perusahaan Mineral Nasional (Perminas), Gilarsi Wahju Setijono mengungkap sejumlah tantangan pengembangan komoditas logam tanah jarang (LTJ) di dalam negeri. Saat ini, Perminas sudah mendapatkan Izin Usaha Pertambangan (IUP) LTJ eksplorasi dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) di Mamuju, Sulawesi Barat. Kata Gilarsi, tantangan

By Rian Wahyuddin