Bos Perminas Buka-Bukaan Tantangan Pengembangan Logam Tanah Jarang di Dalam Negeri

Bos Perminas Buka-Bukaan Tantangan Pengembangan Logam Tanah Jarang di Dalam Negeri
Presiden Direktur PT Perusahaan Mineral Nasional (Perminas), Gilarsi Wahju Setijono, usai menghadiri CPI Forum 2026.

Jakarta, TAMBANG – Presiden Direktur PT Perusahaan Mineral Nasional (Perminas), Gilarsi Wahju Setijono mengungkap sejumlah tantangan pengembangan komoditas logam tanah jarang (LTJ) di dalam negeri.

Saat ini, Perminas sudah mendapatkan Izin Usaha Pertambangan (IUP) LTJ eksplorasi dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) di Mamuju, Sulawesi Barat.

Kata Gilarsi, tantangan tersebut tidak hanya berkaitan dengan aspek teknis, tetapi juga sosial, teknologi, dan waktu. Pasalnya, masyarakat di sekitar wilayah eksplorasi belum sepenuhnya familiar dengan pengembangan komoditas tersebut.

“Selain tantangan teknis, tentu ada tantangan sosial juga. Karena masyarakat di sana belum familiar. Jadi proses edukasi juga sedang terjadi,” ujarnya kepada awak media, dikutip Senin (21/9).

Menurutnya, potensi gejolak sosial dalam proses pengembangan LTJ merupakan hal yang perlu diantisipasi. Namun, ia menilai persoalan tersebut dapat dihadapi melalui proses edukasi kepada masyarakat.

“Bahwa ada gejolak sosial, pasti ada. Tapi ini persoalan edukasi saja,” katanya.

Di sisi teknis, tantangan juga datang dari aspek engineering dan teknologi. Penguasaan teknologi menjadi penting karena pengembangan LTJ tidak berhenti pada tahap penambangan, tetapi membutuhkan proses pengolahan hingga menghasilkan produk bernilai tambah.

Selain persoalan sosial dan teknologi, waktu menjadi tantangan lain yang tengah dikejar Perminas. Percepatan eksplorasi dinilai penting untuk mengetahui seberapa besar potensi LTJ yang dimiliki Indonesia.

“Yang ketiga adalah waktu. Bagaimana kita bisa mengompres waktu,” ujarnya.

Eksplorasi Dipercepat

Bos Perminas itu mengungkapkan, pihaknya tengah melakukan berbagai upaya untuk mempercepat proses eksplorasi. Dalam proses tersebut, sejumlah metode accelerated exploration dan speedy exploration mulai dipelajari dan dikembangkan.

“Seperti yang tadi saya ceritakan mengenai accelerated exploration dan speedy exploration, banyak teman-teman yang menemukan metode-metode baru,” jelasnya.

Meski demikian, ia mengakui masih terdapat pertanyaan mengenai aspek keekonomian dari metode eksplorasi cepat tersebut. Namun, penerapan metode tersebut dinilai dapat meningkatkan tingkat keyakinan terhadap potensi sumber daya yang ditemukan.

“Apakah ini juga bisa diterima secara ekonomi, kita belum tahu. Tapi yang penting kita memiliki confidence level yang lebih tinggi,” katanya.

Ia menambahkan, percepatan tersebut diharapkan dapat memangkas waktu eksplorasi secara signifikan. Jika sebelumnya dalam roadmap eksplorasi diproyeksikan berlangsung sekitar lima tahun, proses tersebut diupayakan dapat dilakukan dalam waktu sekitar sembilan bulan untuk memperoleh gambaran awal yang lebih kuat mengenai potensi LTJ.

“Kira-kira kita membutuhkan waktu sekitar sembilan bulan,” ujarnya.

Teknologi Jadi Kunci

Di sisi teknologi, Perminas menyebut peluang kolaborasi internasional terbuka cukup lebar. Menurutnya, perkembangan geopolitik global, khususnya ketegangan antara China dan negara-negara di luar China, turut mendorong negara-negara lain untuk membangun kerja sama dalam pengembangan teknologi LTJ.

“Sebetulnya karena pergulatan geopolitik ini, terutama tensi China dan non-China, akhirnya pihak-pihak yang sama-sama terdampak ini saling berkumpul. Jadi banyak yang willing to collaborate,” katanya.

Sejumlah negara disebut telah menunjukkan ketertarikan untuk berkolaborasi dengan Indonesia. Di antaranya India, Jepang, Taiwan, dan Amerika Serikat.

“Yang paling engage itu ada India, ada Jepang, ada Taiwan, ada Amerika juga. Cukup banyak,” ungkapnya.

Menurut dia, kolaborasi tersebut tidak hanya berkaitan dengan investasi, tetapi juga pertukaran teknologi dan pengetahuan. Masing-masing pihak dapat menawarkan teknologi atau kemampuan yang dimiliki untuk dikembangkan bersama.

“Bisa saling berbagi. Mereka punya teknologi apa, kita punya apa, begitu,” pungkasnya.

Artikel Terkait

Enlit Asia dan MKI Electricity Connect 2026 Hadirkan 280+ Perusahaan Global

Enlit Asia dan MKI Electricity Connect 2026 Hadirkan 280+ Perusahaan Global

Jakarta, TAMBANG – Sektor ketenagalistrikan Indonesia tengah memasuki fase transformasi yang penting. Peningkatan permintaan listrik, integrasi energi terbarukan, modernisasi jaringan, digitalisasi, serta meningkatnya kebutuhan listrik dari sektor industri dan pusat data mendorong kebutuhan akan sistem ketenagalistrikan yang semakin andal, fleksibel, dan tangguh. Dalam konteks tersebut, Enlit Asia dan MKI Electricity Connect

By Rian Wahyuddin