Beranda Korporasi Berkat Batu Bara, Laba Bersih Indika Energy Naik 684,27 Persen

Berkat Batu Bara, Laba Bersih Indika Energy Naik 684,27 Persen

Pelabuhan impor batu bara di Rotterdam. Sumber foto:worldmaritimnews.com

Jakarta, TAMBANG – Harga batu bara yang masih melambung turut mengerek kinerja keuangan PT Indika Energy selama periode 2022. Perusahaan investasi dengan portofolio bisnis yang terdiversifikasi ini mencatatkan laba bersih sebesar USD 452,7 juta atau Rp 68,19 triliun (kurs Rp 15.065), naik sekitar 684,27 persen.

Vice President Director and Group CEO Indika Energy, Azis Armand menyebut kenaikan juga terjadi pada pendapatan perseroan sebesar USD 4.334,9 juta. Naik 41,2% dibandingkan tahun 2021 yang senilai USD 3.069,2 juta.

“Kenaikan pendapatan perseroan terutama disebabkan oleh meningkatnya harga jual batu bara dimana indeks batu bara Indonesia (ICI) 4 di tahun 2022 menjadi sebesar USD 86,1 per ton atau naik 30,7% dibandingkan tahun sebelumnya,” ucap dia, Rabu (29/3).

Anak-anak perusahaan lainnya seperti Kideco Jaya Agung (Kideco), Indika Indonesia Resources, dan Interport juga mencatat kenaikan Pendapatan.

Di tahun 2022, Pendapatan Kideco meningkat 37,0% menjadi USD 3.008,8 juta – terutama disebabkan karena meningkatnya harga jual batu bara rata-rata dan volume penjualan. Kideco menjual 34,8 juta ton batu bara dengan harga jual rata-rata sebesar USD 86,6 per ton.

Pendapatan Indika Indonesia Resources meningkat 73,6% menjadi USD 861,4 juta dibandingkan USD 496,1 juta di tahun 2021 yang disebabkan kenaikan pendapatan dari Multi Tambangjaya Utama (MUTU) dan bisnis perdagangan batu bara.

Pendapatan Interport juga meningkat 19,6% menjadi USD 34,7 juta, dimana USD 26,6 juta di antaranya berasal dari terminal penyimpanan bahan bakar Kariangau Gapura Terminal Energi (KGTE).

Sementara itu, Pendapatan Tripatra juga meningkat 32,1% menjadi USD 306,2 juta dari sebelumnya USD 231,8 juta di tahun 2021 yang terutama disebabkan oleh kenaikan pendapatan dari proyek BP Tangguh dan proyek baru seperti Star Energy Geothermal Salak dan Cabott.

Azis kemudian menyampaikan bahwa perusahaan lewat Kideco telah menunaikan Domestic Market Obligation (DMO) batu bara sebesar 28 persen, melebihi ketetapan yang sudah ditentukan pemerintah yakni sebesar 25 persen.

“Melalui Kideco Perseroan mengalokasikan 28% dari total produksi untuk kebutuhan dalam negeri atau melebihi ketentuan 25% Domestic Market Obligation (DMO). Di tengah meningkatnya permintaan  dan harga jual batu bara global, Perseroan kian memprioritaskan komitmen terhadap Environmental, Social, and Governance (ESG) dan memperkuat diversifikasi usaha di sektor non-batu bara,” beber Azis.