Beranda ENERGI Migas Harga Minyak Dunia Masih Tinggi, Begini Strategi SKK Migas

Harga Minyak Dunia Masih Tinggi, Begini Strategi SKK Migas

Jakarta, TAMBANG – Harga minyak dunia diperkirakan masih pada posisi yang tinggi dalam waktu yang lama. Menurut analisa Rystad Energy, harga minyak dalam jangka pendek di bulan Februari 2022 berada di kisaran USD 128 per barel dan dalam jangka panjang diangka USD 80 dolar.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), Dwi Soetjipto mengatakan bahwa pihaknya akan melakukan beberapa langkah strategis dengan bersinergi bersama Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.

“Menyikapi harga minyak yang tinggi, langkah jangka pendek, KKKS bisa melakukan percepatan penerapan new KSO dan no cure no pay pada kegiatan reaktivasi sumur atau rejuvenasi lapangan. Dalam jangka panjang, dengan harga minyak yang masih tinggi, maka menjadi kesempatan untuk melakukan investasi,” ungkapnya saat koordinasi operasi produksi dengan 10 KKS di Surabaya, dikutip dari keterangan tertulis, Rabu (30/3).

Menurutnya, sumur yang berpotensi untuk dilakukan reaktivasi itu adalah sumur yang terletak di wilayah Jawa, Bali dan Nusa Tenggara (Jabanusa).

“Saya rasa jumlah sumur pemboran di KKKS Jabanusa bisa ditingkatkan lagi, kegiatan workover dan well service juga bisa ditingkatan. Selain itu, kegiatan eksplorasi juga bisa ditambah”, ujar Dwi.

Lebih lanjut Dwi mengingatkan bahwa selain upaya meningkatkan jumlah program dan kegiatan, menjaga operasional hulu migas yang ekselen juga harus dapat dijaga. Terkait hal tersebut, Dwi meminta agar kegiatan perawatan fasilitas produksi dirawat dengan baik.

“Jangan sampai, kerja keras kita untuk melakukan kegiatan yang paling optimal untuk meningkatkan produksi migas, kemudian terkendala dengan adanya unplanned shutdown, akibatnya tentu kita akan kehilangan jam kerja, kehilangan produksi dan lifting migas. Kita akan lakukan audit operational maintenance untuk mencegah terjadinya unplanned shutdown”, tegas Dwi.

Dalam kesempatan ini juga Dwi menjelaskan bahwa sehubungan dengan jadwal onstream proyek JTB di bulan Agustus 2022, maka saat ini ada kekurangan pasokan gas untuk pupuk sekitar 20 MMSCFD – 30 MMSCFD.

“Dari kunjungan kerja ke Saka Pangkah dan juga Petronas, ada gas yang belum terserap. Saya minta, pada forum ini seluruh Kontraktor KKS yang hadir bisa menyampaikan gas bumi yang belum terserap, serta potensi gas bumi yang bisa ditingkatkan”, bebernya.

“Gas-gas tersebut sampai Agustus 2022 akan disalurkan ke industri pupuk. Sehubungan dengan akan tersambungnya pipa gas ke Cirebon dan Semarang di tahun 2023, maka potensi gas Jabanusa kedepannya dapat dikirim ke Jawa Tengah dan juga ke Jawa Barat yang masih sangat kekurangan gas”, imbuh Dwi.

Sementara itu, KKKS menyampaikan beberapa kendala dan masukan untuk mendukung upaya peningkatan produksi migas di Jabanusa. Beberapa hal yang menjadi perhatian dan kebutuhan KKKS adalah serapan gas yang masih menjadi tantangan karena infrastruktur gas pipa belum tersambung ke daerah operasi di KKKS, monetisasi gas ke pembeli yang masih terkendala.

Aspek lain yang perlu ditingkatkan menurut KKKS adalah koordinasi dan sinkronisasi kegiatan non teknis dengan instansi bersangkutan dalam mendukung pemboran.

Artikulli paraprakTerkait Harga Batubara Khusus Untuk Industri Dalam Negeri, Ini Penjelasan Dirjen Minerba
Artikulli tjetërDukung Emisi Euro 4, United Tractors dan Scania Hadirkan Armada Berteknologi SCR