Hingga 2023, RI Cuma Punya 5 Smelter Mineral Terintegrasi

Produksi VALE
Ilustrasi: Smelter nikel matte milik PT Vale Indonesia Tbk di Sorowako, Luwu Timur, Sulawesi Selatan. Dok: Rian

Jakarta, TAMBANG – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat hingga tahun 2023 jumlah smelter mineral terintegrasi dengan tambang ada 5 unit dan semuanya untuk mengolah nikel. Artinya, sejak tahun 2020 tak ada penambahan dari pembangunan fasilitas pengolahan dan pemurnian tersebut.  

“Pembangunan fasilitas pemurnian mineral yang terintegrasi yang sudah terbangun 100% ada 5 smelter,” kata Menteri ESDM, Arifin Tasrif dalam konferensi pers di Jakarta, dikutip Kamis (18/1).

Meski begitu, sudah ada 2 smelter yang sedang tahap finalisasi yaitu smelter feronikel milik PT Aneka Tambang Tbk (Antam) atau dikenal Proyek Pembangunan Pabrik Feronikel Haltim (P3FH) dan smelter besi milik PT Sebuku Iron Lateritic ores yang menghasilkan sponge ferro alloy.

“Ada dua proyek smelter yang saat ini progresnya sudah di atas 90%, yakni smelter PT Antam (proyek P3FH) di Maluku Utara. Saat ini dilakukan lelang pembangunan power plant dan PT Sebuku Iron Lateritic Ores di Kalimantan Selatan yang merupakan smelter besi menghasilkan sponge ferro alloy,” jelas Arifin.

Ke depan direncanakan akan kembali dibangun sebanyak 11 smelter yang terdiri dari 2 smelter nikel, 7 bauksit, 1 besi dan 1 smelter tembaga sehingga total smelter mineral yang terbangun menjadi 16 smelter.

Arifin melanjutkan, ada satu smelter nikel yang perlu diselesaikan dan 6 smelter bauksit yang progress pembangunannya antara 30-60% dan satu smelter besi dengan progress 90% yang harus diselesaikan, dan satu smelter juga tembaga yang masih dalam penyelesaian. “Ada dua proyek besar, ya, ada di Gresik dan juga ada di Nusa Tenggara Barat,” lanjut Arifin.

Terpisah, Plt Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Bambang Suswanto menyatakan kelima smelter yang sudah beroperasi itu adalah smelter nikel Antam di Pomalaa, smelter nikel PT Vale Indonesia Tbk (VALE) di Luwu Timur, smelter nikel PT Wanatiara Persada di maluku utara, smelter nikel PT Fajar Bhakti Lintas Nusantara di Maluku Utara dan Smelter Nikel PT Weda Bay Nickel di Maluku Utara mulai beroperasi  tahun 2020.

“5 (lima) smelter yang telah selesai masa pembangunan yakni, smelter nikel PT Aneka Tambang di Pomalaa, Kolaka, Sulawesi Tenggara, PT Vale Indonesia di Sulawesi Selatan, PT Wanatiara Persada di Maluku Utara, PT Fajar Bhakti Lintas Nusantara dan smelter PT Weda Bay Nickel di Maluku Utara,” ungkap Bambang.

Sebagai informasi, smelter Antam menghasilkan feronikel (FeNi), smelter VALE menghasilkan nickel matte, smelter Wanatiara menghasilkan feronikel, smelter Fajar Bhakti menghasilkan Nickel Pig Iron (NPI) dan smelter Weda Bay menghasilkan feronikel.  

Artikel Terkait

Enlit Asia dan MKI Electricity Connect 2026 Hadirkan 280+ Perusahaan Global

Enlit Asia dan MKI Electricity Connect 2026 Hadirkan 280+ Perusahaan Global

Jakarta, TAMBANG – Sektor ketenagalistrikan Indonesia tengah memasuki fase transformasi yang penting. Peningkatan permintaan listrik, integrasi energi terbarukan, modernisasi jaringan, digitalisasi, serta meningkatnya kebutuhan listrik dari sektor industri dan pusat data mendorong kebutuhan akan sistem ketenagalistrikan yang semakin andal, fleksibel, dan tangguh. Dalam konteks tersebut, Enlit Asia dan MKI Electricity Connect

By Rian Wahyuddin
Bos Perminas Buka-Bukaan Tantangan Pengembangan Logam Tanah Jarang di Dalam Negeri

Bos Perminas Buka-Bukaan Tantangan Pengembangan Logam Tanah Jarang di Dalam Negeri

Jakarta, TAMBANG – Presiden Direktur PT Perusahaan Mineral Nasional (Perminas), Gilarsi Wahju Setijono mengungkap sejumlah tantangan pengembangan komoditas logam tanah jarang (LTJ) di dalam negeri. Saat ini, Perminas sudah mendapatkan Izin Usaha Pertambangan (IUP) LTJ eksplorasi dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) di Mamuju, Sulawesi Barat. Kata Gilarsi, tantangan

By Rian Wahyuddin