Beranda Mineral Pemakaian Merkuri Oleh Penambang Disorot Internasional

Pemakaian Merkuri Oleh Penambang Disorot Internasional

 

PEMAKAIAN air raksa oleh para pencari emas di Pulau Kalimantan, mendapat sorotan dari media internasional, The Washington Post, dalam terbitannya kemarin.  Dengan judul ‘’Untuk Menemukan El Dorado-nya, Penambang Emas di Indonesia Menghadapi Risiko Merkuri, di Tengah Kubangan Lumpur.’’

 

Tambang emas El Dorado merupakan tambang emas yang juga menjadi atraksi para turis di Fox, 10 kilometer dari kota Fairbanks, Amerika Serikat. Tambang ini didirikan pada 1900-an. Kini El Dorado berubah, tak hanya menjadi tambang, melainkan juga jadi tempat tujuan wisata tambang. Pemiliknya adalah Alaska Riverways, Inc.

 

Pemakaian air raksa untuk mencari emas ini menjadi sorotan, untuk mengingatkan adanya masalah lingkungan cukup serius. Indonesia menurut peringkat yang dikeluarkan Reuters pada 2007 merupakan negara pelontar emisi gas kaca peringkat ketiga di dunia, setelah Amerika Serikat dan Cina, melepaskan 3-4 miliar ton gas.

 

Sejarah panjang penggundulan dan kebakaran hutan turut memperbesar persoalan lingkungan. Pemakaian air raksa  oleh penambang liar semakin menambah masalah lingkungan.  Zat yang masuk ke dalam kelompok logam berat ini digunakan untuk memisahkan emas dari unsur ikutannya.

 

Pada November 2014, wartawan foto Luca Catalano Gonzaga berkeliling Kalimantan untuk merekam kegiatan para penambang emas liar itu, untuk albumnya yang bertajuk ‘’The Artisanal gold mining’’, bagian dari sebuah cerita besar berjudul ‘’Child survival in changing climate’’. Kegiatannya didukung oleh Witness Image Association, dan dibiayai Nando Peretti Foundation.

 

Witness Image adalah kumpulan nir-laba yang berdiri pada 2010, dibidani oleh wartawan Susanna Bucci dan fotografer Luca Catalano Gonzaga, keduanya dari Italia. Lembaga ini didirikan untuk ‘’berbagi kepada dunia ihwal dunia yang tengah berubah melalui gambar, bahwa perubahan menuju lebih baik bisa dicapai dengan kegiatan bersama’’.

 

Adapun Yayasan Nando Peretti adalah sebuah organisasi nirlaba yang didirikan oleh pengusaha Italia, Elsa Peretti. Yayasan ini diniatkan untuk mengenang sang ayahanda, Nando Peretti, pengusaha terkemuka Italia yang mendirikan perusahaan minyak terkemuka, Anonima Petroli Italiana (API).

 

Penambangan emas yang disorot ini berlokasi di Tumbang Tariak dan Tumbang Miwan, keduanya di Kabupaten Gunung Mas, Provinsi Kalimantan Tengah. Luca Gatalano Gonzaga menyaksikan para penambang mempertaruhkan hidupnya mencari emas dengan membabat hutan, menghancurkan bebatuan. Mereka sadar, kegiatannya melawan hukum yang berlaku di Indonesia. Terdapat 10.000 penambang liar yang beroperasi.

 

Para penambang itu menggali tanah, lalu mengalirkan air untuk mengangkat lumpur ke permukaan. Ketika dinding tak lagi kuat menahan, ia ambrol, mengubur si penambang hidup-hidup. Pada 2014 terdapat 24 penambang yang tewas. Ketika mereka tengah bekerja, tiba-tiba dinding di kiri kanannya ambruk.

 

Pemakaian air raksa dalam penambangan, dilarang oleh pemerintah, baik pusat maupun daerah. Dalam prakteknya masih banyak penambang, terutama penambang liar yang menggunakannya.

 

Sumber: The Washington Post.

Foto: The Washington Post/Luca Catalano Gonzaga

Artikulli paraprakPGN Operasikan SPBG di Surabaya
Artikulli tjetërInvestasi Tambang Prospektif, Rawan Goncangan Politik