Tak Peduli Harga Jatuh, DPNS Tetap Investasi di Batu Bara

Tak Peduli Harga Jatuh, DPNS Tetap Investasi di Batu Bara
Jakarta-TAMBANG. PT Duta Pertiwi Nusantara Tbk (DPNS) cukup berani menganggarkan dana investasi Rp 150 miliar di tahun ini untuk melanjutkan pengelolaan tambang batu bara. Direktur Utama DPNS, Hadi Widjaja mengatakan sampai saat ini perusahaannya sudah mengalokasikan Rp 110 miliar.   “Kita akan terus lakukan pengeboran, sehingga saat harga batu bara membaik kita sudah siap berproduksi,” katanya, Rabu (24/6).   Melalui anak usahanya, PT Intitirta Primasakti diharapkan batu bara yang berlokasi di Jambi tersebut mulai dapat berproduksi pada 2,5-3 tahun ke depan. Untuk tahap pertama produksinya ditargetkan mencapai 500.000 ton sampai 1 juta ton. Batu bara tersebut, tambah Hadi akan dipasarkan di dalam negeri.   “Kami tertarik batubara karena secara jangka panjang, energi tetap dibutuhkan. Sekarang menurun tapi tidak apa-apa karena semua ada up and down. Di luar itu, proyek pemerintah 35.000 MW menyerap banyak batu bara. Kami pun yakin 3-4 tahun mendatang permintaan akan naik,” ungkapnya.   Berdasarkan laporan keuangan perseroan, Duta Pertiwi Nusantara sebenarnya merupakan perusahaan yang bergerak di industri lem, barang-barang kimia, dan pertambangan yang berdomisili di Pontianak, Kalimantan Barat. Namun, perseroan memiliki unit usaha batu bara melalui anak usaha yang dimiliki 60%, yaitu PT Intitirta Primasakti. Sisanya 40% dimiliki oleh PT Ayrus Prima.   Pada 30 Januari 2014, Menteri ESDM Jero Wacik telah mengeluarkan Keputusan Menteri ESDM No.0237 K/30/MEM/2014 tentang pembatalan Kepmen ESDM No.3070 K/30/MEM/2011 tanggal 1 Desember 2011. Kepmen tanggal 1 Desember 2011 itu berisi tentang pengakhiran PKP2B antara Pemerintah RI dengan PT Intitirta Primasakti di Kabupaten Sarolangun dan Batanghari, Jambi, serta Kabupaten Musi Banyuasin, Sumsel.   Artinya, konsesi batu bara yang semula sudah dinyatakan berakhir dan dikembalikan kepada pemerintah, kini menjadi aktif kembali setelah DPNS menempuh jalur hukum.

Artikel Terkait

JAC Motors Perkuat Mobilitas Tambang dengan Kendaraan Komersial Listrik di Mining Indonesia 2026

JAC Motors Perkuat Mobilitas Tambang dengan Kendaraan Komersial Listrik di Mining Indonesia 2026

Jakarta, TAMBANG – Kebutuhan kendaraan operasional yang tangguh sekaligus efisien menjadi salah satu perhatian industri pertambangan di tengah dorongan menuju operasional yang lebih rendah emisi. Menjawab kebutuhan tersebut, JAC Motors menghadirkan solusi kendaraan komersial listrik dalam ajang Mining Indonesia 2026 yang berlangsung pada 9–12 September 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta.

By Rian Wahyuddin
Hadir di Mining Indonesia 2026, EMLI Perkenalkan Solusi Pelumasan Sintetis Canggih

Hadir di Mining Indonesia 2026, EMLI Perkenalkan Solusi Pelumasan Sintetis Canggih

Jakarta,TAMBANG,- Industri pertambangan Indonesia memasuki fase operasional yang semakin menuntut efisiensi dalam segala aspek. Mulai dari tekanan produksi, kenaikan biaya operasional, kebutuhan untuk menjaga keandalan alat berat, serta implementasi B50 mendorong pelaku tambang harus memperkuat disiplin perawatan dan mengurangi risiko downtime. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan sektor pertambangan

By Egenius Soda
Pakar Nilai RUU Daerah Kepulauan Harus Beri Kepastian Investasi Pertambangan

Pakar Nilai RUU Daerah Kepulauan Harus Beri Kepastian Investasi Pertambangan

Jakarta, TAMBANG - Direktur Eksekutif Indonesia Mining & Energy Watch, Ferdy Hasiman menyoroti pembahasan Rancangan Undang-Undang (RUU) Daerah Kepulauan yang dinilai perlu memberikan kepastian hukum bagi investasi jangka panjang, termasuk sektor pertambangan. Kepastian regulasi dianggap penting agar pengembangan sumber daya alam di wilayah kepulauan dapat berjalan seiring dengan kepentingan pembangunan

By Rian Wahyuddin