Beranda Mineral Harga Komoditi Memburuk, Freeport Rugi

Harga Komoditi Memburuk, Freeport Rugi

JAKARTA –TAMBANG. PERUSAHAAN tambang tembaga dari Amerika Serikat, Freeport-McMoRan Inc. melaporkan kerugiannya pada kuartal keempat, Rabu kemarin. Ini membuat Freeport tidak bisa memenuhi target pengurangan utang. Situasi tak menyenangkan ini terjadi akibat jatuhnya harga komoditi. Tetapi Freeport memperkirakan harga tembaga akan naik setelah 2015.

 

Freeport, perusahaan yang berpusat di Phoenix, Arizona, Amerika Serikat, mengontrol hampir 10% produksi tembaga dunia. Dalam pernyataannya yang dikutip koran The Wall Street Journal, Selasa kemarin, Freeport menyatakan akan menaikkan produksi tembaganya sekitar 26% tahun depan.

 

Menghadapi harga minyak yang terus turun, Freeport menyatakan akan memangkas belanjanya di proyek minyak dan gas yang tengah dikembangkan.

 

Freeport merugi US$ 2,85 miliar, atau $2,75 per lembar saham, tahun lalu. Padahal pada 2013 Freeport berlaba US$ 707, atau $ 0,68, setahun sebelumnya. Laporan kuartal keempat ini sudah mencakup biaya bersih sebesar US$ 3,1 miliar, sebagian besar pada sektor minyak dan gas. Penerimaan turun 11% menjadi US$ 5,24 miliar.

 

Meski berekspansi ke minyak dan gas, Freeport masih tetap fokus pada tembaga, yang menghasilkan lebih dari 60% penerimaan. Tembaga banyak dipakai untuk pipa dan kabel. Jumlah pemakaiannya mencerminkan tingkat pertumbuhan ekonomi.

 

Pasar tembaga melemah pada kuartal keempat akibat lesunya permintaan global. Rata-rata harga tembaga produksi Freeport turun 10,9% menjadi $2,95 per pound. 1 pound = 0,45 kilogram. Sementara harga minyak menurun 15,8% dibanding setahun sebelumnya.

 

Kepala Eksekutif Freeport, Richard Adkerson membandingkan situasi harga komoditi saat ini dengan resesi global pada akhir 2008. Meski demikian ia optimistis karena ‘’fundamental jangka panjang’’ terhadap pasar tembaga masih menjanjikan.

 

‘’Kekuatan utama Freeport adalah pada banyaknya cadangan yang dimiliki, sehingga bisa menjamin kontrak dalam jangka panjang. ‘’Ketika harga naik, mesin produksi kami akan berputar lebih cepat. Kami akan mendapatkan duit masuk lebih banyak,’’ katanya. Freeport menargetkan produksi 5,4 miliar pound (2,43 miliar kilogram), naik dari 1,935 miliar kilogram tahun ini.

 

Kata Adkerson, tahun 2015 merupakan tahun penuh ketidakpastian. Akan terjadi beberapa perubahan, disesuaikan dengan situasi pasar. Freeport sudah memangkas belanja modalnya sebesar US$ 2 miliar, terutama di sektor yang berkaitan dengan minyak dan gas.

 

Freeport tengah mencari sumber dana dari luar untuk menghadapi pelemahan harga minyak, gas, dan harga komoditi yang memburuk.

 

Foto: Tambang Grasberg di Papua milik Freeport. Salah satu tambang emas dan tembaga terbesar di dunia.

Artikulli paraprakPeserta WEF Galau Lihat Kondisi Ekonomi Global
Artikulli tjetërTahun Ini 12 Smelter Siap Beraksi